Proyek Logam Tanah Jarang Mamuju Disiapkan Jadi PSN, Mulai Dibangun Awal 2027

Kalacaksana.com, Mamuju — Pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) di Blok Takandeang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, disiapkan menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) terkait potensi mineral. Tak main-main, proyek tersebut ditargetkan mulai dibangun pada awal 2027.

Proyek ini dikembangkan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau PERMINAS, BUMN yang berada dalam ekosistem Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Saat ini, PERMINAS telah mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi untuk Blok Takandeang.

Blok Takandeang memiliki wilayah yang cukup luas. Data Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat luas WIUP yang direkomendasikan untuk komoditas Logam Tanah Jarang di wilayah Blok Takandeang saja mencapai sekitar 3.740 hektare. Bahkan luasan total lahan pembangunan nantinya mencakup lebih dari 13.000 hektare.

IUP tersebut menjadi dasar bagi PERMINAS melakukan penelitian dan pengumpulan data mengenai potensi mineral di wilayah tersebut. Tahap eksplorasi meliputi pemetaan serta pengamatan kondisi tanah dan batuan untuk mengetahui jumlah, jenis, sebaran, dan kandungan mineral sebelum proyek masuk ke tahap pembangunan.

Potensi mineral di kawasan Mamuju tidak hanya mencakup Logam Tanah Jarang (LTJ), tetapi juga ditemukan kandungan mineral radioaktif seperti uranium dan thorium. Potensi tersebut menjadi salah satu bagian dari karakteristik geologi kawasan Mamuju yang tengah dikaji lebih lanjut.

Rencana pengembangan LTJ Mamuju juga sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat industri mineral kritis dan hilirisasi di Indonesia. Danantara bersama PERMINAS telah membangun kerja sama dengan New Energy Metals Holdings Ltd (NEM), perusahaan yang berbasis di Dubai, untuk mengevaluasi potensi pengembangan rantai pasok rare earth yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Kerja sama tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Februari 2026. Selain mengevaluasi sumber daya niobium dan rare earth elements (REE) Maboumine di Gabon, kerja sama itu juga membuka peluang pengembangan rantai nilai hilir rare earth di Indonesia.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan pengembangan mineral kritis harus diarahkan hingga menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing global.

“Fase berikutnya pertumbuhan industri Indonesia membutuhkan akses yang tangguh terhadap input strategis serta kemampuan untuk mengonversi input tersebut menjadi produk hilir yang berdaya saing global. Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis strategis yang berorientasi masa depan,” kata Rosan dalam keterangannya.

Sementara President Director atau CEO PERMINAS, Gilarsi Wahju Setijono, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong industrialisasi hilir mineral kritis di Indonesia.

“PERMINAS berkomitmen mendorong pencapaian tujuan strategis Indonesia di sektor mineral kritis dan industrialisasi hilir. MoU ini menciptakan jalur yang terstruktur untuk menilai peluang yang menghubungkan potensi sumber daya hulu dengan penciptaan nilai hilir, selaras dengan tata kelola yang kuat dan prioritas nasional jangka panjang,” ujar Gilarsi.

Material rare earth memiliki peran penting dalam berbagai industri strategis, termasuk kendaraan listrik, energi terbarukan, jaringan listrik, kedirgantaraan, pertahanan, dan teknologi tinggi.

PERMINAS Sosialisasi ke Warga

Di tingkat daerah, PERMINAS bersama Pemerintah Desa Takandeang telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat di Lapangan Sepak Bola Desa Takandeang, Kamis (13/8/2026).

Sosialisasi tersebut dihadiri masyarakat, perangkat desa, tokoh adat, serta sejumlah pemangku kepentingan. Warga diberikan penjelasan mengenai rencana kegiatan, lokasi pengelolaan, tahapan pekerjaan, hingga potensi dampak dan manfaat dari eksplorasi mineral.

Masyarakat juga diberi ruang menyampaikan pertanyaan dan masukan terkait rencana kegiatan tersebut. Pemerintah daerah menilai keterbukaan diperlukan agar masyarakat memahami bahwa kegiatan yang berlangsung saat ini masih berada pada tahap eksplorasi.

Sekretaris Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Barat, Alexander Arruanpasau, mengatakan pemerintah daerah ingin memastikan masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh mengenai tahapan eksplorasi.

“Kami berharap kegiatan ini dapat berjalan transparan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, serta menjadi model bagi kegiatan eksplorasi lainnya di Sulawesi Barat,” ujar Alexander.

Kepala Dinas ESDM Sulbar, Bujaeramy Hassan, juga meminta seluruh tahapan pengembangan dilakukan dengan memperhatikan aturan, kepentingan masyarakat, dan lingkungan.

“Kami mendorong agar seluruh tahapan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat, kearifan lokal, dan kelestarian lingkungan,” pesannya.

Pakar geologi Prof. Widia Astuti yang hadir dalam sosialisasi menyebut berdasarkan informasi dan kajian awal, potensi LTJ di wilayah tersebut merupakan salah satu potensi mineral yang penting bagi Indonesia.

Menurut Widia, tahapan eksplorasi juga akan dilakukan dengan mengambil berbagai sampel dari lingkungan sekitar, mulai dari tanah, tanaman, sayuran, bahan pangan hingga sumber air yang digunakan masyarakat, termasuk air sumur bor. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kandungan LTJ sekaligus memastikan kondisi lingkungan tetap berada dalam batas yang diperbolehkan.

“Kami berharap kandungan logam tanah jarang yang terdapat pada makanan dan air yang dikonsumsi masyarakat masih berada dalam variasi atau batas toleransi yang diperbolehkan. Karena itu, pengujian dan pengambilan sampel menjadi bagian penting dalam tahapan eksplorasi ini,” ujar Prof. Widia. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *